Pemanfaatan Kearifan Lokal pada Konservasi Lingkungan

Pemanfaatan Kearifan Lokal pada Konservasi Lingkungan

konservasi lingkungan merupakan salah satu upaya untuk menjaga kelestarian alam untuk memberikan jaminan adanya kehidupan bagi setiap makhluk hidup dalam ekosistemnya.

Aktivitas ini merupakan tanggung jawab bersama, dan bukan hanya dibebankan kepada satu orang atau lembaga tertentu saja. Uniknya di beberapa daerah kegiatan ini melibatkan kearifan loka sehingga terasa lebih membumi dan terasa unik.

Kearifan Lokal pada Konservasi Lingkungan

Tanpa disadari Konservasi lingkungan yang didukung dengan kearifan lokal, akan memberikan dua dampak positif sekaligus. tidak hanya alam yang terjadi, tetapi juga melestarikan nilai-nilai budaya yang semakin hari semakin luntur.

Ini tentu akan menguntungkan bagi masa depan, karena anak cucu masih dapat melihat alam yang indah dibarengi dengan nilai-nilai budaya yang patut untuk diteladani.

Masalahnya, tidak banyak daerah yang kini ikut bertanggung jawab terhadap proses kelestarian lingkungan. Gejalanya adalah kegiatan ini hanya dilakukan oleh segelintir orang atau lembaga saja yang memang peduli terhadap proses ini.

Namun, di beberapa daerah masih terlihat kental. Mana saja wilayah tersebut? Simak pembahasan berikut di bawah ini.

Sistem Irigasi Subak di Bali

Subak merupakan salah satu cara menjaga lingkungan yang melibatkan kearifan lokal. Dalam sistem ini setiap petak sawah yang mendapatkan pengairan akan memperoleh zat hara yang tepat jumlahnya. Air irigasi tersebut mengalir dari satu petak sawah ke lainnya dengan aturan yang telah diwariskan turun temurun.

Baduy Dalam

Dengan menghormati nilai-nilai yang diwariskan oleh leluhurnya suku Baduy dalam atau yang lebih dikenal dengan orang Kanekes secara tidak langsung menjaga lingkungannya.

Konsep Leuweung Kolot

Di daerah Jawa Barat terhadap konsep Leuweung Kolot yang arti harfiahnya adalah hutan larangan, semacam daerah yang dilindungi. Kawasan ini biasanya dilindungi oleh hukum adat, dan akan menjadi pantangan bagi masyarakat sekitar. Biasanya, akan ada semacam pamali untuk mereka yang melanggar.

Warga Baduy Dalam tidak diperkenankan menggunakan bahan-bahan pembersih yang notabene terbuat dari bahan kimia yang dapat mencemari lingkungannya. Tidak diperbolehkan juga menggunakan kain yang berwarna-warni kecuali hitam dan putih saja.

Sistem Sasi

Di Pulau Haruku, Maluku Tengah, terdapat sebuah sistem yang dikenal dengan Sasi yang merupakan sebuah larangan turun temurun untuk memanen atau mengambil sumber daya tertentu.

Warisan nilai ini dimaksudkan untuk menjaga kualitas dan populasi tumbuhan ataupun hewan dalam suatu habitat tertentu. Antara lain laut, hutan, sungai, kolam, dan lain sebagainya.

Dengan sistem Sasi ini, maka akan terjadi proses distribusi yang merata dari hasil berbagai sumber daya alam lainnya, tanpa adanya potensi merusak tanaman dan hewan yang masih bertumbuh. Dengan demikian, kelestariannya tetap terjaga.

Kearifan lokal yang mendukung konservasi lingkungan akan mendorong setiap orang yang terlibat merasa bertanggung jawab untuk melaksanakannya dengan cara sebaik mungkin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *